About Coffee

Coffee atau Kopi dalam bahasa Indonesia secara luas dikenal sebagai minuman stimulan yang dibuat dari biji kopi. Kopi pertama kali dikonsumsi orang diabad ke 9 didaerah dataran tinggi Ethiopia, dari sana lalu menyebar ke Mesir dan Yaman lalu diabad ke 15 menyebar ke Armenia, Persia, Turki dan Afrika Utara.       [more]

Artikel Kopi

Sejarah Kopi di Indonesia

      - Kopi di Indonesia

      - Madahiling, Linthong, Gayo

      - Toraja, Kalosi dan Gowa

      - Bali, Flores dan Papua

      - Proses Pengolahan Kopi

Gallery Coffee
Gallery Coffee dari seluruh penjuru dan pelosok Indonesia        [more...]
About Us
Tentang kami dan kenapa kami tertarik dengan "Coffee" [more...]

Welcome to "Kampoeng Coffee" Cafe

Sejarah Kopi di Indonesia

Proses Pengolahan Kopi secara umum

Pemetikan Biji Kopi

 Pada saat pohon kopi mulai berproduksi buah, hal tersebut membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan agar buah menjadi matang hingga berwarna merah seperti 'buah ceri'. Kopi tersebut kemudian dipetik dengan tangan. Untuk kualitas kopi yang terbaik, kopi dipetik jika telah matang serta berwarna merah ceri. Kopi yang belum matang dibiarkan matang di dahannya hingga kemudian dapat dipetik.  Selama panen, setiap pohon harus dikunjungi untuk beberapa waktu, hal ini merupakan metode yang membutuhkan biaya yang lumayan tinggi. Alternatif lain adalah, para petani  memprediksi/menentukan waktu panen, dan kemudian memetik buah yang telah matang maupun yang belum matang dari pohonnya secara serentak. Hal ini dilakukan dengan mendorongkan dahan-dahan tersebut dengan menggunakan tangan sehingga buah-buahan jatuh ke dalam sebuah keranjang atau pada kain terpal yang dibentangkan di bawah pohon. Metode ini lebih efisien, namun menghasilkan kualitas yang lebih rendah secara keseluruhan. 

Persiapan/Penyajian Biji Kopi

Sebelum disangrai, biji kopi harus dikeringkan terlebih dahulu. Ada dua cara untuk mempersiapkan biji kopi yaitu dengan metode 'kering' atau dengan metode 'basah'.

Dengan metode kering, biji kopi yang telah dipetik dibentangkan pada tikar khusus dan biarkan untuk terjemur sinar matahari selama dua hingga tiga minggu.

Dengan metode 'basah', mesin 'bubur' digunakan untuk mengambil ampas dari biji kopi tersebut.

Hasilnya disebut "kopi perkamen" kemudian difermentasikan dan direndam untuk mengeluarkan ampas yang tersisa.

Pemilihan Biji Kopi

Dalam tahap ini, biji kopi berwarna agak sedikit kehijauan, oleh sebab itu disebut 'biji kopi hijau', yang sebagian besar tidak memiliki bau atau rasa kopi. Sebelum dipak ke dalam kantung dan dikirim ke seluruh dunia, kopi hijau dipilih, disusun berdasarkan tingkatannya dan diperiksa untuk memastikan kualitasnya. Stinkers, blacks, sours dan foxes adalah beberapa kriteria dari biji kopi yang tidak sempurna.

Campuran

Prosedur pencicipan rasa dan pencampuran kopi merupakan bagian yang kompleks. Setiap pembuat kopi menjalankan pencampuran kopinya secara ketat.

Semua ini bergantung pada keahlian kelompok pencampuaran kopi guna memastikan kualitas serta cita rasa kopi yang mereka produksi bersifat konsisten sepanjang tahun.  

Pembakaran Biji Kopi 

Sebagaimana yang kita ketahui biji kopi hijau yang digongseng tidak akan menyebabkan hilangnya aroma serta cita rasa pada kopi tersebut.

Bergantung pada peralatan pembakaran dan rasa yang ingin dihasilkan dari kopi yang sedang dibuat, biji kopi hijau biasanya dibakar pada suhu 180°C dan 240°C selama tiga hingga 12 menit. 

Penggilingan

Sebelum dimasak, biji kopi yang telah dibakar harus digiling. Penggilingan pada biji kopi dapat meningkatkan luas permukaan kopi, sehingga pada saat pembuatannya, penyerapan rasa pada kopi akan lebih mudah.

Pembuatan kopi agar dapat mudah larut

 Kopi yang mudah larut dapat dibuat dengan cara yang sama seperti  kopi yang dimasak dan digiling, yaitu biji kopi dicampur, dibakar serta digiling. Tunggu kopi segar yang telah di masak ini menjadi kering, mengeluarkan air dan Anda akan memperoleh kopi yang mudah larut 100%.