Coffee atau Kopi dalam bahasa Indonesia secara luas dikenal sebagai minuman stimulan yang dibuat dari biji kopi. Kopi pertama kali dikonsumsi orang diabad ke 9 didaerah dataran tinggi Ethiopia, dari sana lalu menyebar ke Mesir dan Yaman lalu diabad ke 15 menyebar ke Armenia, Persia, Turki dan Afrika Utara. [more]
|
Sejarah K |
|
Indonesia menghasilkan
420.000 metric ton kopi ditahun 2007, dari hasil tersebut
sekitar 271.000 ton diekspor dan selebihnya untuk konsumsi
dalam negeri. Untuk eksport, sekitar 25% adalah kopi arabica
yang dikenal bermutu tinggi sehingga digunakan untuk
campuran kopi sejenis yang berasal dari Amerika Tengah dan
Afrika Timur yang mempunyai “acidity coffee” yang tinggi.
Sejarah Kopi di
Indonesia.
Ditahun 1696, Gubernur
Belanda di Malabar mengirimkan biji kopi ke Gubernur Belanda
di Batavia, pengiriman pertama hilang karena banjir yang
terjadi di Batavia, pengiriman kedua dilakukan tahun 1699.
Eksport kopi pertama
dilakukan tahun 1711 oleh VOC, dalam tempo 10 tahun eksport
meningkat sampai 60 ton/tahun, Indonesia adalah tempat
perkebunan pertama diluar Arabia dan Ethiopia dan VOC
memonopoli perdagangan kopi ini dari tahun 1725 sampai 1780.
Ditahun 1700an harga kopi
yang dikirim dari Batavia sekitar 3 Guilder/kg di Amsterdam
dan itu sama dengan beberapa ratus USD/Kg dengan kurs saat
ini, harga kopi memang sangat mahal saat itu. Akhir abad 18
harga kopi mulai turun menjadi 0.6 Guilder/Kg sehingga kopi
bisa diminum untuk kalangan yang lebih luas lagi.
Terlihat bahwa
perdagangan kopi sangat menguntungkan VOC, tetapi tidak bagi
petani kopi di Indonesia saat itu karena diterapkannya
sistem cultivation [Cultuurstelsel].
VOC kemudian melebarkan
sayap dengan menanam kopi diluar Jawa seperti di Sumatra,
Bali, Sulawesi dan Timor. Di Sulawesi mulai ditanam tahun
1750, di dataran tinggi Sumatra Utara dekat Danau Toba
ditanam sekitar tahun 1888 dan di Gayo, Aceh dekat danau
laut tawar ditahun 1924.
Saat ini ada 20 varietas kopi arabica di Indonesia yang
terbagi dalam 6 kategori yaitu :
Typica – ini tanaman yang aslinya dibawa oleh Belanda dan
sebagian besar hancur ditahun 1880s, saat penyakit daun kopi menyerang Indonesia, tetapi di Bergandal
dan
Sidikalang, varieties Typica
masih bisa ditemukan terutama ditempat dataran tinggi.
Hibrido de Timor (HDT) –
dikenal juga
dengan varietas
“TimTim”,
persilangan antara arabica dan robusta, pertama diambil tahun 1978 di Timor
Timur lalu ditanam di Aceh tahun 1979.
Linie S – Varietas ini dikembangkan di perkebunan Bourbon, India
dan jenis yang terkenal adalah S-288 dan S-795, bisa ditemukan
di
Lintong, Aceh, Flores
dan daerah lain.
Ethiopian lines –
Menyebar di
Jawa tahun 1928 lalu juga ke Aceh. Varietas dari Ethiopia
lain yang ditemukan di Sumatra ada yang disebut
“USDA”
Caturra cultivars: Caturra
adalah mutasi
dari kopi
Bourbon coffee,
nerasal
dari Brasil.
Catimor lines –
Persilangan
antara Arabica
dan Robusta
sangat kurang aromanya. Tetapi ada jenis Catimor yang terkenal yaitu
“Ateng-Jaluk”.
Riset juga menunjukan bahwa varietas lokal catimor di Aceh
menghasilkan karakteristik kopi yang sangat baik.
Kopi Robusta mulai diperkenalkan di
Indonesia ditahun 1900an untuk pengganti kopi arabica yang
hancur saat terjadi penyakit tumbuhan menyerang tanaman kopi
arabica, kopi robusta yang lebih tahan terhadap hama
dianggap sebagai alternatif yang tepat terutama untuk
perkebunan kopi didaerah dataran rendah. |